Home Internasional Meta Raup Untung dari AI, Bisnis Pencarian Google Mulai Tertekan
Internasional

Meta Raup Untung dari AI, Bisnis Pencarian Google Mulai Tertekan

Share
Meta Raup Untung dari AI, Bisnis Pencarian Google Mulai Tertekan
Kantor Google. | Dok. Shutterstock
Share

PUNCA.CO – Persaingan bisnis periklanan digital antara Meta dan Google semakin memperlihatkan perbedaan arah di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI). Meta berhasil meningkatkan pendapatan iklan melalui teknologi AI, sementara bisnis pencarian Google mulai menghadapi tekanan akibat perubahan kebiasaan pengguna internet.

Dilansir CNBC Indonesia (2/11/2026), pada kuartal III tahun ini, pendapatan iklan Meta mencapai US$ 63,1 miliar atau sekitar Rp 1.104 triliun. Angka tersebut meningkat 26 persen dibandingkan periode yang sama. Sebaliknya, pendapatan Google Search hanya tumbuh 12 persen menjadi US$ 63,4 miliar.

Selisih pertumbuhan sebesar 14 poin persentase tersebut menjadi yang terbesar sejak 2021 dengan Meta berada di posisi lebih unggul. Kondisi ini turut memengaruhi sentimen pasar terhadap Alphabet, perusahaan induk Google.

Baca juga: Mualem–Dek Fadh Dorong Pusat Tuntaskan Tiga Persoalan Strategis Aceh: Dana Otsus, Bendera Aceh, dan Lapangan Blang Padang

Setelah laporan keuangan dirilis, saham Alphabet dilaporkan merosot lebih dari 12 persen. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$ 500 miliar atau Rp 8.750 triliun dari nilai kapitalisasi pasarnya dalam sehari, sekaligus menjadi penurunan terburuk sepanjang sejarah perusahaan.

Perbedaan kinerja kedua perusahaan tidak terlepas dari strategi pemanfaatan AI. Meta mengintegrasikan teknologi tersebut langsung ke dalam sistem periklanannya untuk membantu pengiklan menyusun kampanye, menentukan target audiens, hingga meningkatkan efektivitas iklan.

Penggunaan perangkat AI tersebut dilaporkan mampu meningkatkan konversi hampir 5 persen dan mendorong belanja iklan sebesar 9 persen. Salah satu contohnya adalah produsen sirup maple Simply Organic Maple yang mencatat kenaikan penjualan 57 persen, disertai penurunan biaya per pembelian sebesar 36 persen.

Baca juga: Harga Ponsel Naik, Konsumen Kini Lebih Selektif Memilih Perangkat

Hingga saat ini, hampir 10 juta pengiklan telah menggunakan perangkat AI milik Meta.

Sebaliknya, Google menghadapi tantangan dari perubahan cara masyarakat mencari informasi. Kehadiran ChatGPT, Claude, hingga Gemini memungkinkan pengguna memperoleh jawaban secara langsung tanpa harus membuka tautan situs web.

Perubahan tersebut berpotensi mengurangi jumlah klik pada hasil pencarian. Padahal, kunjungan pengguna melalui tautan menjadi salah satu sumber utama pendapatan iklan Google.

Baca juga: Pemko Langsa Terima Bantuan Dua Unit Becak Motor Viar dari PT PEMA

“Ini pedang bermata dua. Jika orang menemukan jawaban yang mereka cari tanpa perlu mengeklik apa pun, mesin pencari kehilangan alasan utama untuk dikunjungi,” ujar Nate Elliott, analis di Emarketer kepada CNBC International.

“Perubahan kebiasaan ini berpotensi bencana bagi bisnis iklan Google.”

Google sebenarnya telah mengintegrasikan AI ke dalam sistem periklanannya. Namun, dampaknya terhadap pertumbuhan pendapatan belum terlihat signifikan. Fitur AI Overview yang menyajikan rangkuman jawaban langsung di halaman pencarian juga ikut memengaruhi jumlah pengguna yang mengeklik tautan.

Baca juga: Api Lahap 22 Rumah Warga Hingga Musalla di Gayo Lues

Meskipun jumlah pencarian Google mencapai rekor tertinggi, pertumbuhan pendapatannya justru berjalan lebih lambat. Di sisi lain, Meta juga mulai menghadirkan pesaing baru melalui asisten AI bernama Muse.

Kedua perusahaan kini mengalokasikan dana sangat besar untuk membangun infrastruktur AI. Google merencanakan belanja modal hingga US$ 205 miliar tahun ini, sedangkan Meta menyiapkan anggaran US$ 145 miliar. Meski demikian, investasi tersebut belum menghasilkan pengembalian yang sebanding.

Ketergantungan terhadap iklan juga menjadi faktor pembeda. Sekitar 98 persen pendapatan Meta berasal dari bisnis periklanan. Sementara itu, kontribusi iklan terhadap total pendapatan Google kini kurang dari dua pertiga, meskipun layanan pencarian masih menjadi sumber pemasukan terbesarnya.

Baca juga: Bank Aceh Dorong Perluasan Ekosistem Pembayaran Digital

Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Meta mulai mengembangkan sumber pendapatan melalui layanan berlangganan. Adapun Google berupaya memperbesar bisnis komputasi awannya atau Google Cloud.

Pada kuartal ini, pendapatan Google Cloud tumbuh lebih dari 100 persen menjadi US$ 31 miliar. Namun, Google masih menghadapi tantangan untuk menemukan sumber pendapatan yang mampu menandingi besarnya pemasukan dari bisnis pencarian.

Share