PUNCA.CO – Permintaan dollar Singapura di sejumlah money changer Jakarta mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang asing yang mendorong masyarakat mencari alternatif penyimpanan nilai.
Dilansir Kompas.com (31/5/2026), Selain digunakan untuk kebutuhan perjalanan, dollar Singapura kini menjadi salah satu valuta asing yang banyak diminati sebagai aset simpanan. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5), rupiah berada di level Rp17.880 per dollar AS. Sementara terhadap dollar Singapura, rupiah sempat menyentuh Rp14.000 per dollar Singapura sebelum kembali ke kisaran Rp13.992 per dollar Singapura.
“Biasanya diincar itu dollar Singapura. Paling banyak diincar itu. Untuk investasinya lumayan juga,” ujar Staff PT Daffa Indo Valuta Aris.
Baca juga: Uang Receh Bisa Jadi Tabungan Ratusan Ribu Rupiah, Ini Kata Perencana Keuangan
Menurut Aris, meningkatnya minat masyarakat terhadap dollar Singapura dipengaruhi oleh pelemahan rupiah yang membuat mata uang tersebut dipandang sebagai alternatif penyimpanan aset. Di sisi lain, tingginya mobilitas masyarakat menuju Singapura juga turut mendorong kenaikan permintaan.
Tak hanya dollar Singapura, sejumlah mata uang lain juga mengalami peningkatan permintaan. Riyal Arab Saudi menjadi salah satu yang banyak dicari karena kebutuhan ibadah haji. Sementara baht Thailand dan ringgit Malaysia diburu untuk keperluan wisata selama musim liburan.
“Karena mungkin ini kemarin-kemarin lagi musim haji, uang riyal lagi laku. Terus ini musim liburan ya, kalau Indonesia itu musim liburannya pasti yang laku uang Thailand, uang Singapura sama uang Malaysia,” ungkap Aris.
Baca juga: BGN dan Polisi Bongkar Dugaan Penipuan Berkedok Titik Lokasi SPPG, Korban Mengaku Rugi Rp950 Juta
Fenomena serupa juga diamati oleh Kepala Cabang Dolarindo Samanhudi, Lucky. Ia menyebut permintaan berbagai mata uang Asia meningkat menjelang liburan sekolah, terutama dollar Singapura, dong Vietnam, ringgit Malaysia, dan baht Thailand.
“Ada dollar Singapura, Vietnam, Malaysia, baht Thailand. Itu yang banyak dikunjungi oleh masyarakat terkait nanti menjelang liburan sekolah,” kata Lucky.
Menurutnya, dollar Singapura tidak hanya dibeli untuk kebutuhan perjalanan, tetapi juga disimpan sebagai investasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh pelemahan rupiah yang tidak hanya terjadi terhadap dollar Singapura, tetapi juga terhadap yuan China, ringgit Malaysia, euro, poundsterling, hingga yen Jepang.
Baca juga: 5 Tips Menyimpan Daging Kurban, Tahan Lama dan Tetap Segar Saat Dimasak
“Semua menurut saya rupiah melemah, baik itu yuan China, ringgit Malaysia, dollar Singapura, euro, poundsterling, semua melemah. Yen Jepang pun sekarang juga tinggi,” kata Lucky.
Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat kini lebih banyak menyimpan pecahan 100 dollar Singapura karena uang kertas pecahan 1.000 dollar Singapura sudah tidak lagi diproduksi sejak 1 Januari 2021 dan semakin langka di pasaran.
“Untuk Singapura kebanyakan sekarang juga pada mau simpan nih. Karena kan pecahan 1.000 dollar Singapura sendiri kan sudah mulai terbatas, jadi mereka sekarang menyimpannya pakai pecahan 100 dollar Singapura. Karena pecahan 1.000 dollar Singapura sendiri itu sudah mulai langka dan harganya sangat tinggi,” ujar Lucky.
Baca juga: BGN Usut Dugaan Penipuan Jual Beli Titik SPPG
Pada Jumat lalu, kurs dollar Singapura di Dolarindo Samanhudi berada di kisaran Rp13.950 per dollar Singapura untuk pembelian dan Rp14.035 per dollar Singapura untuk penjualan. Sementara berdasarkan data Permata Institute for Economic Research (PIER), rupiah melemah sekitar 6 persen terhadap dollar Singapura secara year to date hingga 22 Mei 2026, lebih dalam dibanding pelemahan terhadap dollar AS yang tercatat sekitar 5 persen pada periode yang sama.







