PUNCA.CO – Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah salah satu kapal milik Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal pada Sabtu (8/8/2026) dini hari.
Dilansir CNBC Indonesia, (9/8/2026), ADNOC memastikan serangan tersebut tidak menimbulkan korban luka. Perusahaan juga menyatakan situasi di sekitar kapal telah berhasil dikendalikan.
“Insiden tersebut tidak menimbulkan korban luka, dan situasi telah berhasil dikendalikan,” demikian pernyataan ADNOC.
Baca juga: Arab Saudi Akhirnya Memilih Bantu AS Serang Iran, Berikut Alasannya
Uni Emirat Arab (UEA) turut mengecam insiden tersebut. Melalui unggahan di platform X, pemerintah UEA menyatakan “mengecam keras tindakan penargetan terhadap kapal tanker yang berafiliasi dengan ADNOC saat melintasi Selat Hormuz.”
Di tengah ketegangan tersebut, Iran menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan dilakukan tanpa adanya pemenuhan persyaratan yang ditetapkan Teheran.
Sardar Mohbi, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, mengatakan keputusan pembukaan selat bergantung pada mekanisme dan ketentuan yang ditetapkan Iran.
Baca juga: AS Selidiki Dugaan Keterlibatan Rusia dalam Serangan Drone Iran ke Fasilitas Rahasia CIA
“Pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada mekanisme dan persyaratan khusus Republik Islam Iran dan tidak ada kaitannya dengan negosiasi antara Iran dan Oman,” ujar Mohbi dalam pernyataan di Telegram.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz dengan jaminan kebebasan lalu lintas berpotensi tercapai paling cepat pada Rabu.
Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya juga memberi sinyal bahwa kesepakatan pembukaan jalur tersebut dapat segera terwujud. Namun, hingga kini kesepakatan itu belum diumumkan.
Baca juga: Prasetyo Hadi Angkat Bicara soal Isu Pergantian Kapolri dan Calon Gubernur BI
Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun 33 persen pada Jumat dibandingkan sehari sebelumnya. Sebagian besar kapal yang masih melintas menggunakan rute melalui perairan Iran.
Menurut laporan media, Iran dan Oman tengah mengupayakan kesepakatan mengenai rute transit di kawasan tersebut. Dalam skema yang dibahas, kapal yang masuk akan melewati perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar menggunakan perairan Oman.
Namun, rancangan yang diterbitkan media pemerintah Iran pada Kamis menunjukkan adanya kemungkinan pembatasan. Kantor berita pemerintah Fars melaporkan rancangan tersebut masih dalam pembahasan parlemen Iran.
Baca juga: BGN Proses Pemberhentian Tidak Hormat 66 Kepala SPPG
Dalam rancangan itu, kapal berbendera Amerika Serikat dan Israel disebut akan dilarang melintasi Selat Hormuz. Negara lain yang dinilai telah merugikan Iran juga dapat dilarang melintas hingga membayar kompensasi.









