PUNCA.CO – Iran mengancam akan menjadikan tujuh kabel internet bawah laut di Selat Hormuz sebagai target potensial dalam konflik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Ancaman tersebut menandai kemungkinan meluasnya sasaran konflik ke infrastruktur komunikasi digital yang menopang lalu lintas data internasional.
Dilansir iNews.id (21/10/2026), Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Hossein Mohebbi, menyatakan bahwa Teheran akan mengungkapkan sasaran baru dalam waktu dekat. Ia menyoroti keberadaan tujuh kabel internet utama yang membentang di dasar Selat Hormuz.
Mohebbi menyampaikan pernyataan tersebut melalui stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, pada Rabu (21/10/2026).
Baca juga: Rangkaian Jejak FISIP USK ke-6 Dimulai dengan Aksi Tanam Mangrove di Banda Aceh
“Tujuh kabel internet utama membentang di bawah Selat Hormuz,” kata Mohebbi.
“Kami hanya ingin mereka tahu bahwa target baru akan diungkapkan. Senjata baru akan diungkapkan,” ujarnya.
Selain menyampaikan ancaman terhadap infrastruktur digital, Mohebbi bersumpah akan mengusir sisa-sisa kekuatan AS yang masih berada di kawasan tersebut.
Baca juga: 15 Gampong di Aceh Terima Penghargaan Desa Antikorupsi
Iran Pertimbangkan Infrastruktur Digital sebagai Target
Ancaman terhadap kabel internet bawah laut sebelumnya juga disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Ia menyebut militer Iran dapat mempertimbangkan serangan terhadap infrastruktur digital yang berkaitan dengan AS apabila perang kembali berkobar.
Sasaran potensial yang disebut meliputi kabel internet bawah laut, pusat data, serta fasilitas kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam target,” kata Rezaei, seraya memperingatkan bahwa infrastruktur tersebut mudah dihancurkan jika konflik berlanjut.
Baca juga: PT PEMA Matangkan Strategi Penguatan Bisnis Hasil Diversifikasi Menuju 2027
Meski ancaman telah disampaikan oleh sejumlah pejabat Iran, belum ada konfirmasi bahwa ketujuh kabel internet di Selat Hormuz tersebut telah diputus atau diserang.
Selat Hormuz dalam Pusaran Konflik
Ancaman terhadap kabel internet muncul ketika perang Iran melawan AS dan Israel, yang dimulai pada 28 Februari 2026, masih berlangsung hingga Selasa (20/10/2026). Kedua pihak juga belum menunjukkan tanda-tanda kembali ke meja perundingan.
Sejak konflik pecah, Iran memblokade Selat Hormuz sehingga membatasi pergerakan kapal tanker dan kapal kargo. Jalur perairan ini memiliki peran strategis dalam perdagangan energi global, terutama distribusi minyak dan gas internasional.
Iran dan AS sama-sama mengeklaim memiliki kendali atas jalur tersebut. Kini, ancaman terhadap kabel internet berpotensi memperluas konflik dari jalur pelayaran dan perdagangan energi ke jaringan komunikasi digital.
Dampak serangan terhadap kabel bawah laut akan bergantung pada lokasi kerusakan, kapasitas jaringan alternatif, serta jalur data yang terdampak. Kerusakan dapat memperlambat koneksi internet dan mengganggu layanan digital yang bergantung pada komunikasi internasional.
Namun, serangan terhadap kabel tertentu tidak serta-merta memutus seluruh koneksi internet di kawasan atau dunia. Besarnya dampak baru dapat diketahui setelah ada informasi mengenai kabel yang terdampak, tingkat kerusakan, dan ketersediaan jalur pengganti.










