PUNCA.CO – Krisis pelayanan kesehatan terjadi di RSUD Aceh Besar setelah seluruh tenaga medis melakukan aksi mogok massal, Senin (20/4/2026). Dampaknya, sebanyak 13 poliklinik ditutup total dan ratusan pasien tidak terlayani.
Penutupan layanan dipicu oleh kosongnya stok sebagian besar obat-obatan yang telah berlangsung selama sekitar lima bulan. Kondisi ini dinilai menghambat pelayanan medis secara serius hingga tenaga kesehatan memilih menghentikan layanan sebagai bentuk protes.
“Pelayanan tidak bisa berjalan maksimal tanpa obat. Ini sudah berlangsung lama,” ujar perwakilan dokter spesialis, dr. Irfan.
Baca juga: Warga Tionghoa Banda Aceh Ucap Syahadat di Masjid Raya Baiturrahman
Selain krisis obat, tenaga medis juga menyoroti belum dibayarkannya Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) sejak Januari 2025 serta jasa medis sejak November 2025. Situasi tersebut semakin memperburuk kondisi internal rumah sakit.
Di tengah aksi mogok, layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) tetap beroperasi untuk memastikan pasien dalam kondisi kritis tetap mendapatkan penanganan.
Baca juga: Mualem Soal Dinamika JKA: Tidak Mengubah Nilai Perjuangan dan Keadilan Sosial
Tenaga medis menilai, persoalan ini tidak lepas dari belum optimalnya penerapan status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang telah ditetapkan sejak 2024, namun hingga kini belum berjalan efektif. Hal itu berdampak pada pengelolaan keuangan, administrasi, hingga ketersediaan obat.
Aksi mogok akan terus berlangsung hingga ada kepastian penyelesaian. Tenaga medis mendesak pemerintah daerah dan DPRK segera mengambil langkah konkret, mulai dari pengadaan obat, percepatan operasional BLUD, hingga pembayaran hak tenaga kesehatan yang tertunggak.






