PUNCA.CO – Serangan kelompok Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026), menewaskan 12 orang dan menyebabkan 309 lainnya mengalami luka-luka. Sejumlah korban dilaporkan dalam kondisi kritis, sementara otoritas setempat masih menyelidiki kerusakan akibat serangan tersebut.
Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi (GACA) mengungkapkan bahwa para korban meninggal dunia berasal dari enam negara. Mereka terdiri atas empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.
Dilansir iNews.id (11/10/2026), GACA menyatakan seluruh korban luka telah mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Namun, beberapa di antaranya mengalami luka serius sehingga membutuhkan penanganan intensif.
Baca juga: IASC Terima 7.454 Laporan Penipuan dari Aceh, Belanja Online Terbanyak
Serangan tersebut juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah properti di kawasan bandara. Hingga Minggu, otoritas Arab Saudi belum mengumumkan hasil penilaian menyeluruh mengenai tingkat kerusakan karena proses penyelidikan masih berlangsung.
Bandara Ditutup Sementara
Dampak serangan pada Sabtu sore itu membuat Bandara Internasional King Khalid ditutup sementara. Penutupan dilakukan untuk mengevakuasi korban, memeriksa kerusakan fasilitas, serta memastikan keamanan sebelum kegiatan penerbangan kembali beroperasi.
Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai waktu pembukaan kembali bandara maupun langkah pengamanan tambahan yang akan diterapkan oleh otoritas Arab Saudi.
Baca juga: 23 Saksi Diperiksa, Polisi: Tak Temukan Unsur Pidana Terkait Meninggalnya Calon Taruna Poltekpel
Insiden ini menambah daftar korban akibat serangan Houthi di negara tersebut. Dua hari sebelumnya, tepatnya Kamis (8/10/2026), tiga warga Saudi dilaporkan tewas dan sejumlah orang lainnya terluka dalam dua serangan terpisah.
Rentetan serangan dalam waktu berdekatan tersebut kembali menyoroti ancaman terhadap infrastruktur penting Arab Saudi. Fasilitas penerbangan sipil menjadi salah satu objek strategis karena berperan dalam mendukung mobilitas penumpang, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional.
Hingga Minggu (11/10/2026), penyelidikan terkait dampak serangan di Bandara Internasional King Khalid masih berlangsung. Otoritas Saudi belum menyampaikan hasil akhir pemeriksaan kerusakan maupun kepastian mengenai pemulihan operasional bandara.










